Romantisme (mungkin)

Bulan November tahun lalu (2013), saya pernah melewati fase sekarat antara hidup dan mati karena pendarahan saluran pencernaan akibat kecelakaan. Fase hidup dan mati? Bukan lebay, tapi memang kenyataannya demikian. Wallahi, saat kejadian saya merasa takut, takut karena banyaknya dosa yg telah ditimbun semasa hidup. Ketika mengalami fase tersebut, saya merasa banyaknya makhluk memenuhi ruang kamar dan ada beberapa yang melayang sementara di bagian pundak kanan dan kiri seperti adanya penjagaan. Saya mengira itu mungkin malaikat pencatat amal baik dan buruk, wallahu’alam. Dengan terbata saya mengatakan “Mama… Maafin aku… Maafin aku… Astaghfirullah…” Dan di situ aku melihat mama terlihat jauh lebih teduh, air mata ketulusan kami pun menetes karena mungkin takut akan kehilangan satu sama lain.

Romantisme itu bukan hanya kata-kata “Aku sayang kamu” ketika masih bersama, melainkan juga kata-kata “Maafkan aku…” ketika akan berpisah atau merasa akan kehilangan satu sama lain. I do love you mom, fillah… And I’m sorry…

Dan untuk salah satu wanita terbaik yg pernah ku kenal sebagai pendamping hidup, Dessy. Mencintaimu adalah salah satu anugrah, mendampingimu adalah sebuah amanah, dan menyayangimu adalah hamasah. Seminggu di rumah sakit merupakan salah satu momen teromantis yg pernah kurasakan bersamamu, yaa boleh dibilang itu bagian dari momen sakinah-mawaddah-warahmah dalam berumah tangga. Ar Rahman masih senang melihat kita berdua… 🙂

Perjalanan kita masih panjang bukan?

Bismillah… And always will be… ^_^

IMG_56372

Advertisements